Skip to main content

Mimpi yang (Tak) Sempurna


Pekerjaan kaum sosialis sungguh menggoda, terbersit pikiran mau belok ranah pekerjaan. Jujur, sampe sekarang belom ada pandangan apapun tentang pekerjaan. Rumah sakit? Hell no... Sepertinya itu opsi terakhir. Gebetan kerjaannya standar sebenernya, Danone, Unilever, Nestle. Tapi bukan jadi dietitian, lantas apa? Entah lah, posisi manajemen SDM, pemasaran, dan kawannya terlihat lebih menarik. Supervisor PGI juga terdengar menjanjikan, wuih butuh pengalaman berapa tahun dulu mak, keburu tua anak kau nih :s

Tapi harapan orang tua sama anak emang agak ga sejalan. Sebagai anak pertama pasti dituntut cepet kerja habis lulus, segera lah bantuin biaya kuliah adek. Sebagai anak pertama dengan bapak yang udah pensiun, juga pengen cepet dapet kerja, ringankan beban orang tua. Sebagai anak pertama menjelang fresh graduate (secepatnya) merasa masih banyak mimpi yang tercecer nungguin buat dipungut.

Menurut masing-masing orang, sukses itu relatif. Menurut bapak ibu, sukses adalah ketika anaknya langsung dapet kerja habis lulus dengan gaji tinggi, bantuin biaya kuliah adek, terus ambil cicilan mobil. Menurut anak si bapak ibu ini, sukses adalah ketika dia bisa melihat dunia. Hebat kali ya, harus bisa tahan cibiran setiap ketemu keluarga besar. Nasehat sana sini berhamburan.

Jadi mau kubur mimpi buka mata dunia? Non! J'aime le langue et culture. Kendali setir seharusnya berada di tangan sendiri, tapi masukan dari para awak kapal lainnya tetap tidak boleh diabaikan. Bahkan Tuhan pun turut memainkan peran untuk menentukan keberhasilan dari usaha kapal menuju tempatnya berlabuh.

Je suis Silvia Noordiana et etudiante. Recherce multiculturel, romantic, et agreable quartier. Je n'y a pas beaucoup du soleil!

Au revoir <3

Comments

Popular posts from this blog

nindi onnie, this is kind of little cute things right :">

berawal dari ketidakada kerjaan, senggang sesenggang senggangnya, gambar dan coretan kreatif ini dibuat. dalam sehelai tissue ini, terdapat coretan lugas yang dibuat oleh dua orang gadis polos nan lugu. tersangka utama adalah nindita nilasari dan silvia noordiana (aku). seharusnya kita berdua dengerin LPJ para pengurus harian marching yang emang saat itu lagi diadakan di ruang sidang 3 di gelanggang mahasiswa UGM. entah karena rasa bosan yang sudah amat sangat diiringi dengan rasa kelaparan yang tinggi akhirnya sehelai tissue kreatif ini berhasil dibuat. seru kan, obrolan kita ga penting sebenernya di sini, cuma sebuah coretan untuk membunuh waktu ahah yuk nindi onnie kapan lagi kita corat coreet :3 oh sebelumnya, jigeumeun non yoja ireumen, nindita onnie imnida :) nama panjangnya nindita nilasari, sekarang ini lagi kuliah di UGM jurusan bahasa korea. karena aku juga suka korea banget bahkan super maksi sukanya jadilah kita berbahasa koreaan :3 selain itu nih yaaaa mau ...

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')

Looking for a friend

What do you see from your parents? I just see religion, less love and affection. The way you communicate is important, how you can feel alive and be the person loved at home. The things I know is, I don't want to raise my children like my parents raised me. That's not good and not appropriate. Yes, I'm aware of the religion but I didn't get any value and advice. Mostly are unreasonable explanation and I can't get any good discussion. Either way I got high voice upon me or they didn't hear any words came through my mouth. I'm an adult already, need a discussion in both way not just 'Hey, we're your parents. You can't say anything againts us, it's not allowed in our religion'.