Skip to main content

Pressure


Ada beberapa hal yang pasti akan kamu lakukan jika berbincang dengan seseorang.
Kontak mata, sentuhan fisik, dan kontrol nada suara. Tergantung dari seberapa dekat dan seberapa nyaman seorang tersebut dihadapanmu.

Kontak mata buatku sendiri merupakan hal wajib yang harus dilakukan ketika seseorang mengajakmu bicara. Bukankah seseorang bicara akan terlihat menyenangkan jika diberi perhatian dan juga tatapan langsung. Akan lebih merasa berharga dan juga punya arti. Bagaimana?

Tetapi ada suatu kondisi dimana tempat aku berpijak saat ini kontak mata bukanlah yang utama. Pemahaman adalah segalanya. Tentu saja ini merupakan hal baru buatku. Bukankah aku pernah menulisakan tentang hal ini pada tulisan yang telah lalu. Tentang bagaimana aku harus mendorong diriku sendiri untuk berusaha. Pemahaman singkat bisa saja merupakan perjalanan panjang. Entah seberapa keras aku berjuang setiap harinya, tapi bukankah setiap usaha pasti butuh pengorbanan. Jadi apa yang perlu disesalkan?

Mungkin seperti perbincanganku dengan Deka beberapa saat lalu. Di mana hari penuh tekanan sama sekali belum pernah kita rasakan. Hal ini pula yang menjadikan kita gagal dalam mencari pekerjaan di ibukota. Hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa Tuhan masih menguji coba mental kita, dari bawah, merangkak naik perlahan hingga menjadi keras seperti baja. Pada akhirnya ini hanyalah soal pembiasaan dan pembelajaran.

Hidup itu keras, darimana kamu bisa bertahan jika tanpa pengalaman?

Comments

Popular posts from this blog

Kematangan

Saya selalu suka membaca tulisan Uni Hesty di instagram. Seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan study phd nya di negeri kangguru. Saya tidak kenal dia, saya hanya mampir ke profilenya setelah mendapatkan info dari Amrazing. Tulisannya manis, bisa bikin senyum sendiri sepanjang hari. Satu hal yang saya salut, dia menikmati semua waktunya yang tidak pasti bersama dengam orang yang dia sukai. Dia mengutarakannya dan tetap berada di sisinya meskipun orang yang dia sukai memberikan warna abu abu. Bukankah itu berat? Seperti tau dengan adanya penolakan tapi tidak dibarengi dengan pengusiran. Masih menjadi teman diskusi, bercanda dan melewati hari. Saya selalu terharu membaca setiap tulisannya. Sudah bukan roman picisan ala jaman anak SMA. Dia sudah matang secara perasaan. Send all warm regards to you mba, tetap bahagia ya :')

dresses

desain baju awal *source: om google* hasil masukkin kain ke tukang jait yah beda tipis. tipis beda. beda renda. beda saku. beda bahan. beda total -___- fyi gara gara bikin ini baju, 4 taun lalu gue ga dapet baju lebaran. uang kain sama uang jahit bahkan lebih mahal jaaaauh dibanding jatah duit lebaran yang mau dikasih ibu. dan asal lo tau sampe sekarang baju ini cuma kepake sekali doang. sekali selama 4 tahun. what the heck are you doing cil hah sok gaya mau ikutan cosplay nyatanya gapernah sekalipun -.- yah apa mau dikata, that's so me. suka membuat hal baru bahkan yang useless sekalipun.

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')