Skip to main content

Mesin waktu

Waktu memang mengaburkan segala sesuatu.
Dari yang dulunya dekat, sekarang seperti orang asing yang tak pernah kenal. Sebagai disclaimer ini bukan soal percintaan, bukan ya.

Sungguh ajaib bagaimana foto foto bisa jadi sebuah mesin waktu yang canggih. Kenangannya terputar kembali kala kamu melihatnya, entah baik atau buruk. Agak kejam memang dia. Melihat foto satu aku terlempar ke masa bahwa ya aku datang hanya dengan sebuah basa basi, ajakan salah seorang teman. Yang dimana disana aku tak bisa membaur, seperti masuk di dunia yang berbeda. Asing.

Melihat foto dua aku terbawa dengan kenangan hangat sebuah pertemanan. Dimana saat itu rasanya punya teman untuk berbagi.

Melihat foto lainnya seperti ada penegasan. Kita dekat karena suatu alasan, suatu persamaan. Entah tugas kelompok yang sama, tempat pkl yang sama, atau lingkaran pertemanan yang kebetulan sama. Yang seakan berkata bahwa jika bukan karena persamaan ini maka foto itu tak akan tercipta.

Rupanya begini, kehilangan lingkaran sosial. Umurku baru seperempat abad tapi lingkungan sosial sudah seakan tak tergapai. Bagaimana jika di umur lima puluh nanti?

Aku mulai terbiasa untuk berkelana sendiri dan tenggelam dalam duniaku. Bersama lingkaran baru dengan sengaja meninggalkan yang lama karena pemikiran kita tak lagi sejalan.

People change, so do I.

Comments

Popular posts from this blog

nindi onnie, this is kind of little cute things right :">

berawal dari ketidakada kerjaan, senggang sesenggang senggangnya, gambar dan coretan kreatif ini dibuat. dalam sehelai tissue ini, terdapat coretan lugas yang dibuat oleh dua orang gadis polos nan lugu. tersangka utama adalah nindita nilasari dan silvia noordiana (aku). seharusnya kita berdua dengerin LPJ para pengurus harian marching yang emang saat itu lagi diadakan di ruang sidang 3 di gelanggang mahasiswa UGM. entah karena rasa bosan yang sudah amat sangat diiringi dengan rasa kelaparan yang tinggi akhirnya sehelai tissue kreatif ini berhasil dibuat. seru kan, obrolan kita ga penting sebenernya di sini, cuma sebuah coretan untuk membunuh waktu ahah yuk nindi onnie kapan lagi kita corat coreet :3 oh sebelumnya, jigeumeun non yoja ireumen, nindita onnie imnida :) nama panjangnya nindita nilasari, sekarang ini lagi kuliah di UGM jurusan bahasa korea. karena aku juga suka korea banget bahkan super maksi sukanya jadilah kita berbahasa koreaan :3 selain itu nih yaaaa mau ...

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')

Looking for a friend

What do you see from your parents? I just see religion, less love and affection. The way you communicate is important, how you can feel alive and be the person loved at home. The things I know is, I don't want to raise my children like my parents raised me. That's not good and not appropriate. Yes, I'm aware of the religion but I didn't get any value and advice. Mostly are unreasonable explanation and I can't get any good discussion. Either way I got high voice upon me or they didn't hear any words came through my mouth. I'm an adult already, need a discussion in both way not just 'Hey, we're your parents. You can't say anything againts us, it's not allowed in our religion'.