Skip to main content

Jiwa yang Bersedih

 

MenangislahKan kau juga manusia

Tidak kah letih kakimu berlariAda hal yang tak mereka mengertiBeri waktu tuk bersandar sebentarSelama ini kau hebatHanya kau tak didengar

Beberapa waktu yang lalu dengar lagu ini dari reels, dari seorang guru yang memposting muridnya sedang bersedih karena ibunya sudah sakit dalam waktu yang lama. Semua temannya menghibur, mengusap dan bilang ngga papa, menangis aja, semoga ibu segera sembuh. Lalu ibu guru itu bilang, terima kasih sudah bertahan, kamu hebat.

Hanya sebuah kalimat tapi begitu bermakna.

Aku menangis sejadi jadinya.

Membayangkan jadi anak itu saja aku tidak akan sanggup. Bagaimana aku akan bertahan, hari hari pasti akan berbeda, banyak penyesuaian dengan penuh pengorbanan.

Lain waktu aku dengar ini di radio, mungkin memang jiwaku sedang rapuh. Aku kembali menangis berderai air mata. Membayangkan banyak ibu, istri, dan mungkin orang yang sudah bekuat tenaga tapi memang belum terlihat hasilnya. Ingin mengeluh tapi merasa tidak sepantasnya kata aduh terucap.

Mungkin juga lagu ini terngiang di kepala karena sungguh, sekarang motivasi bekerja sama dengan nol. Tapi takut untuk berhenti, memang manusia banyak mau.

Terima kasih, terima kasih untuk kalian semua yang sudah berjuang sekuat tenaga, berusaha sampai titik tertinggi. Ngga papa kalau berjeda sebentar, terdiam dalam hening, menikmati waktu berputar. Ngga perlu terburu buru, yakinkan pasti ada jalan, ada Allah yang akan membimbing.




Comments

Popular posts from this blog

nindi onnie, this is kind of little cute things right :">

berawal dari ketidakada kerjaan, senggang sesenggang senggangnya, gambar dan coretan kreatif ini dibuat. dalam sehelai tissue ini, terdapat coretan lugas yang dibuat oleh dua orang gadis polos nan lugu. tersangka utama adalah nindita nilasari dan silvia noordiana (aku). seharusnya kita berdua dengerin LPJ para pengurus harian marching yang emang saat itu lagi diadakan di ruang sidang 3 di gelanggang mahasiswa UGM. entah karena rasa bosan yang sudah amat sangat diiringi dengan rasa kelaparan yang tinggi akhirnya sehelai tissue kreatif ini berhasil dibuat. seru kan, obrolan kita ga penting sebenernya di sini, cuma sebuah coretan untuk membunuh waktu ahah yuk nindi onnie kapan lagi kita corat coreet :3 oh sebelumnya, jigeumeun non yoja ireumen, nindita onnie imnida :) nama panjangnya nindita nilasari, sekarang ini lagi kuliah di UGM jurusan bahasa korea. karena aku juga suka korea banget bahkan super maksi sukanya jadilah kita berbahasa koreaan :3 selain itu nih yaaaa mau ...

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')

Looking for a friend

What do you see from your parents? I just see religion, less love and affection. The way you communicate is important, how you can feel alive and be the person loved at home. The things I know is, I don't want to raise my children like my parents raised me. That's not good and not appropriate. Yes, I'm aware of the religion but I didn't get any value and advice. Mostly are unreasonable explanation and I can't get any good discussion. Either way I got high voice upon me or they didn't hear any words came through my mouth. I'm an adult already, need a discussion in both way not just 'Hey, we're your parents. You can't say anything againts us, it's not allowed in our religion'.