Sebagai orang Jogja asli, yang dari buka mata pertama kali di kota teromantis ini pasti tau dong. Dari dulu Jogja ngga pernah sepi dari pawai budaya kirab. Ada aja tiap bulannya kirab budaya, ada aja tiap bulannya ada acara seni bertebaran. Flash back ingatan ke jaman masa kecil dulu, di mana ulang taun Jogja disambut dengan sangat meriah oleh semua penghuni sudut Jogja. Gegap gempita membahana. Sampai pinggiran jalan dan sudut jalan malioboro hingga pojok pasar bringharjo sudah terlalu pengap untuk bernafas. Semua datang dengan gembira menyambut pesona budaya yang akan disuguhkan bagi rakyat Jogja. Jogja itu kota istimewa, pesonanya begitu kuat hingga berakar dalam ingatan siapapun yang pernah merasakan pahit getirnya hidup di kota berbudaya ini.
Tapi kian lama, pesona asli Jogja semakin memudar. Hanya
berdasar pada riuhnya animo masyarakat untuk ikut andil dalam perkembangan acara
acara masa kini. Ikut berlarian kesana kemari, mengikuti alur social media. Ikut
merasakan tapi hanya lalu lalang, bukannya berhenti sejenak untuk menikmati
makna. Rasanya kok sedih.
Guyonan khas Jogja juga punya daya tarik tersendiri. Gojeg
kere nama bekennya sih. Aku rindu masa saat sekolah menengah berlangsung, cara
bercandanya khas. Suka. Beberapa waktu lalu aku menemukan guyonan yang sama, gojeg
kere, di kalangan volunteer. Rasanya seperti nyidam, terobati. Coba saja
bandingkan bagaimana gaya anak Jogja bercanda, rasanya menggelitik sekali.
Sering kali membuat senyum terkulum tak henti henti. Menurutku Jogja punya
caranya tersendiri untuk tetap menghidupkan kesederhanaan dan juga kenyamanan
bagi setiap orangnya. Jogja itu istimewa, Jogja itu medhok, dan Jogja itu kota
penuh makna budaya.
Comments
Post a Comment