Skip to main content

Yang patah tumbuh yang hilang berganti


Akan ada saatnya, dimana yang tetap tinggal akan pergi dan datang pengganti yang baru.

Seperti dulu aku pernah bilang, mungkin saja kamu memang salah alamat, yang datang dan hanya tinggal untuk sementara. Hanya saja, pasti akan terasa berat jika hunian sementara itu merupakan tempat paling nyaman selama hidupmu. Sudah seperti rumah tinggal untuk hari tua, terlalu enggan untuk beranjak.

Yang begini memang suka bikin sedih dan gundah gulana. Tapi sebagai mahkluk hidup, manusia memang perlu untuk terus bergerak demi menjaga keseimbangannya. Yang pergi harus kuat dan yang ditinggalkan harus rela. Semakin dewasa semakin banyak hal yang harus diputuskan. Ikut membuat bingung untuk sekedar memilih mau makan apa siang ini. Banyak konsekuensi dan banyak basa basi. Rasanya capek ya menjadi makhluk sosial, tapi juga sedih untuk ditinggalkan sesama.

Maunya apa?

Comments

Popular posts from this blog

:--------3

gery maulana <3

dresses

desain baju awal *source: om google* hasil masukkin kain ke tukang jait yah beda tipis. tipis beda. beda renda. beda saku. beda bahan. beda total -___- fyi gara gara bikin ini baju, 4 taun lalu gue ga dapet baju lebaran. uang kain sama uang jahit bahkan lebih mahal jaaaauh dibanding jatah duit lebaran yang mau dikasih ibu. dan asal lo tau sampe sekarang baju ini cuma kepake sekali doang. sekali selama 4 tahun. what the heck are you doing cil hah sok gaya mau ikutan cosplay nyatanya gapernah sekalipun -.- yah apa mau dikata, that's so me. suka membuat hal baru bahkan yang useless sekalipun.

pembiasaan kecil

tadi pagi. sekitar jam 8 pagi. dengan badan yang masih mager di atas kasur, selimut masih terpapar di atas badan, mata masih merem melek, dan bantal yang masih jelas ada di atas kepala. pertanyaan itu datang dengan tiba tiba. keluar dengan raut muka polos dan (agaknya) sedikit khawatir. 'mba bapak sakit ya? dari kemarin ko di rumah terus kayanya' ucap mba sari, orang yang bantuin bersih bersih rumah, mencuci, menyetrika hingga memasak. mba sari berbisik untuk mengatakannya takut ucapannya mengganggu ketenangan rumah. dengan raut muka yang masih merem melek aku seolah enggan menanggapinya. bukan karena malas tetapi lebih pada kenyataan yang seketika itu juga menamparku. dengan keras. 'hah ega ko mba ga sakit apa apa' ujarku sambil tersenyum. entah mengapa hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. bukan, bukan karena memang ada suatu penyakit. hanya saja aku baru saja tersadar. mulai memasuki februari 2012 ini bapak sudah mulai pensiun. yang berarti pemasukan ...