Setiap orang pasti punya tapak jalan yang berbeda. Kalimat ini sudah umum dijumpai di berbagai belahan sudut. Terutama untuk mahasiswa tingkat akhir yang bergelut dengan skripsi atu pun tugas akhir. Suatu wejangan bijak yang mungkin terkadang disalah gunakan menjadi alasan untuk menunda kelulusan.
Lantas, bagaimana setelah lulus?
Setiap orang pula pasti punya sebuah impian. Entah impian itu bersifat sangat wajar, keluar jalur, ataupun impian yang bagi banyak orang, mungkin tidak cukup layak untuk diperjuangkan. Layak kah impian itu ditertawakan? Kurasa tidak.
Sebagai manusia yang berpendidikan tidak seharusnya kita menganggap remeh impian seseorang, se-tidak rasional apapun impiannya. Pernahkah kamu berfikir, bahwa impian seseorang terkubur jauh dalam angan hanya karena gelak tawa dan cemoohan yang kamu buat? Dan tanpa kamu sadari pun, seseorang telah mati dalam jiwa hanya karena sikap yang sayangnya mungkin kurang kamu sadari. Karena sesungguhnya seseorang tanpa impian hanyalah raga tanpa jiwa, kosong.
Pernah suatu ketika aku bercerita mengenai seberapa ingin aku menggapai impian pada teman terdekatku. Pada akhirnya yang kudapat hanya olokan dan gelak tawa. Saat itu juga bayangan mimpi itu lenyap, terasa jauh dalam jangkauan. Memang yang kulakukan saat itu hanya berangan, belum melakukan sesuatu yang nyata. Sampai suatu ketika tiket seminar dari seorang teman lain berhasil menggali kembali impian yang terkubur dalam. Saat itu juga aku menetapkan dan memantapkan hati bahwa aku akan menggapai impianku. Sekali pun jalan terjal harus dilalui.
Seketika itu juga aku sadar, bahwa memang sesuatu yang sudah mainstream tidak berarti harus menjadi panutan. Setiap orang berhak bermimpi. Bukan berarti mengambil mimpi yang berbeda dari orang kebanyakan menjadikannya rendah derajat. Lebih dari itu, dia berani mengambil resiko diluar dugaan. Karena memang sesuatu yang anti mainstream tidak bisa berpedoman pada pengalaman orang kebanyakan.
Jadi siapa anda berani memberikan tawa selebar dunia pada impian seseorang? Seseorang itu bukan anda. Berilah wejangan dengan bijak dan intonasi yang tepat jika anda ingin memberikan kritik saran pembangun. Pernah juga suatu kali aku tertawa mendengar impian seseorang. Mencemooh dan memandang remeh. Sikap ini yang seharusnya dirubah. Saat ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadikan impian seseorang menjadi sebuah guyonan belaka. Saat ini pula aku mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Semoga Allah mengijinkan dan menjabah segala bentuk mimpi dan impian kita semua.
Comments
Post a Comment