Laki-laki itu berjalan tertatih, nafasnya memburu
tersengal-sengal. Rambutnya panjang terurai menutupi sebagian matanya. Tampak
ransel di punggungnya semakin memperlambat langkahnya. Hari itu hujan, petir
gemuruh menggelegar. Beban di pundak juga hantaman hujan semakin mencegah
kakinya untuk maju. Sol sepatunya semakin menipis, setipis lembaran
kertas. Dan bibirnya tak berhenti
berkomat-kamit, sedari tadi hanya memanggil satu nama “Ibu...Ibu...”
Sesampai kakinya di depan rumah dengan cat abu-abu, langkahnya
terhenti. Berganti dengan jeritan tangis tertahan tanpa air mata. Laki-laki itu
tidak beranjak dari tempatnya berdiri, dengan bergegas orang-orang memeluk juga
menuntun langkahnya. Melewati bendera putih yang terpasang di depan rumah
dengan cat abu-abu.
Comments
Post a Comment