Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Looking for a friend

What do you see from your parents? I just see religion, less love and affection. The way you communicate is important, how you can feel alive and be the person loved at home. The things I know is, I don't want to raise my children like my parents raised me. That's not good and not appropriate. Yes, I'm aware of the religion but I didn't get any value and advice. Mostly are unreasonable explanation and I can't get any good discussion. Either way I got high voice upon me or they didn't hear any words came through my mouth. I'm an adult already, need a discussion in both way not just 'Hey, we're your parents. You can't say anything againts us, it's not allowed in our religion'.

Kematangan

Saya selalu suka membaca tulisan Uni Hesty di instagram. Seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan study phd nya di negeri kangguru. Saya tidak kenal dia, saya hanya mampir ke profilenya setelah mendapatkan info dari Amrazing. Tulisannya manis, bisa bikin senyum sendiri sepanjang hari. Satu hal yang saya salut, dia menikmati semua waktunya yang tidak pasti bersama dengam orang yang dia sukai. Dia mengutarakannya dan tetap berada di sisinya meskipun orang yang dia sukai memberikan warna abu abu. Bukankah itu berat? Seperti tau dengan adanya penolakan tapi tidak dibarengi dengan pengusiran. Masih menjadi teman diskusi, bercanda dan melewati hari. Saya selalu terharu membaca setiap tulisannya. Sudah bukan roman picisan ala jaman anak SMA. Dia sudah matang secara perasaan. Send all warm regards to you mba, tetap bahagia ya :')

Titik Ternyaman

Saya takut dengan perubahan. Rasanya seperti akan membuyarkan semua yang ada. Ritme kehidupan, sistem komunikasi akan berantakan. Apa yang kita punya saat ini akan tidak lagi sama. Apa yang saya rasa juga akan berbeda. Karena memang sejatinya manusia tidak ditakdirkan untuk berdiam diri, perubahan merupakan sesuatu yang pasti. Saya takut meninggalkan zona nyaman. Begitu terlena dengan kesenangan yang ada membuat saya enggan untuk berpikir ke depan. Terkadang membuat saya berpikir, sebenarnya untuk apa saya bekerja. Jika mereka semua pergi satu persatu apa yang akan saya perbuat? Titik berat saya saat ini hanya ke mereka yang selalu riang tertawa, menjalani hari ke hari seperti layaknya kerja kelompok di waktu kuliah. Sangat nyaman.... Hingga saya jarang berpikir tentang beratnya pekerjaan saya. Tidak akan saya katakan berat jika saya ada dalam bidang ilmu yang sama. Belum reda rasa menolak perubahan, saya sudah dihadapkan dengan kenyataan yang seolah berkata 'Apakah kamu ...

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')

Gemas yang bukan gumash

Aku geram. Geram sekali rasanya sampai keluar air mata. Mungkin aneh ya? Tapi memang begitu, kalau marahnya keterlaluan aku bisa menangis. Jadi jangan salah paham :( Aku marah melihat liputan penjara sukamiskin. Sangat tidak adil dan sangat diluar akal sehat. Ada orang membela dengan membawa nama HAM, kebebasan mereka sudah terenggut, kenapa pula harus menempatkan mereka di situasi tidak nyaman. Penjara bukan tempat untuk bikin sengsara dan bikin sakit, katanya. Tapi....KALO NGGA MAU SENGSARA JANGAN KORUPSI DONG AH! Itu kataku. Ada yang vonisnya seumur hidup, tapi tidur pake kasur empuk, ada dispenser, ada microwave, makanan banyak tinggal pilih, ada tv, ada laptop. Cih. Itu namanya pindah tidur aja, toiletnya aja ada, bersih, nyaman, toilet duduk, ada shower. Masih ngga merasa bersalah itu ngambil duitnya rakyat? Aku geram tapi tidak bisa apa apa. Tidak tau dari mana. Yha.

Yang patah tumbuh yang hilang berganti

Akan ada saatnya, dimana yang tetap tinggal akan pergi dan datang pengganti yang baru. Seperti dulu aku pernah bilang, mungkin saja kamu memang salah alamat, yang datang dan hanya tinggal untuk sementara. Hanya saja, pasti akan terasa berat jika hunian sementara itu merupakan tempat paling nyaman selama hidupmu. Sudah seperti rumah tinggal untuk hari tua, terlalu enggan untuk beranjak. Yang begini memang suka bikin sedih dan gundah gulana. Tapi sebagai mahkluk hidup, manusia memang perlu untuk terus bergerak demi menjaga keseimbangannya. Yang pergi harus kuat dan yang ditinggalkan harus rela. Semakin dewasa semakin banyak hal yang harus diputuskan. Ikut membuat bingung untuk sekedar memilih mau makan apa siang ini. Banyak konsekuensi dan banyak basa basi. Rasanya capek ya menjadi makhluk sosial, tapi juga sedih untuk ditinggalkan sesama. Maunya apa?

Mesin waktu

Waktu memang mengaburkan segala sesuatu. Dari yang dulunya dekat, sekarang seperti orang asing yang tak pernah kenal. Sebagai disclaimer ini bukan soal percintaan, bukan ya. Sungguh ajaib bagaimana foto foto bisa jadi sebuah mesin waktu yang canggih. Kenangannya terputar kembali kala kamu melihatnya, entah baik atau buruk. Agak kejam memang dia. Melihat foto satu aku terlempar ke masa bahwa ya aku datang hanya dengan sebuah basa basi, ajakan salah seorang teman. Yang dimana disana aku tak bisa membaur, seperti masuk di dunia yang berbeda. Asing. Melihat foto dua aku terbawa dengan kenangan hangat sebuah pertemanan. Dimana saat itu rasanya punya teman untuk berbagi. Melihat foto lainnya seperti ada penegasan. Kita dekat karena suatu alasan, suatu persamaan. Entah tugas kelompok yang sama, tempat pkl yang sama, atau lingkaran pertemanan yang kebetulan sama. Yang seakan berkata bahwa jika bukan karena persamaan ini maka foto itu tak akan tercipta. Rupanya begini, kehilangan lingk...