Skip to main content

Memoar kecil


Hari minggu layaknya surga sewaktu kecil. Banyak film kartun diputar dari mulai pagi hingga tengah hari. Bangun pagiku disambut senyuman, berlari kecil menuju ruang tv dan melongok ke meja makan. Sudah ada jajanan lengkap berjajar yang habis dibeli ibu dari pasar. Bergegas mataku tak kunjung lepas dari layar televisi ditemani dengan kudapan pasar. Sampai sore menjelang, kawan kawan datang menghampiri dengan ajakan yang khas, “Silviiiii, main yuuk”. Ah aku rindu.


Permainan karet gelang yang biasa disebut ‘yeye’ merupakan salah satu permainan favoritku. Aku bisa melompat sekaligus menari, menjajal setinggi dan seterampil apa aku bisa bermain. Bisa melompat dengan tali diacungkan ke udara setinggi tangan penuh, atau bisa disebut posisi ‘tali merdeka’, tanpa meroda itu bangganya bukan main. Wuih, serasa menang lomba pacuan kuda. Main kejar kejaran di permainan 'boi-boi-nan' dan 'sepak sekong' juga memamcu adrenalin. Resikonya sekujur badan sakit kalo kena pukul bola dari lawan. Tapi rasa sakit itu bisa tergantikan oleh tawa. Tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit di-php-in cowok *ups. Aku rasa kenangan masa kecil tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun. Kamu mau aku menukar kenangan masa kecilku dengan setumpuk tablet smartphone terbaru? Hei, bahkan itu tidak mendekati seperempatnya, not even close.

#Day17 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Comments

Popular posts from this blog

nindi onnie, this is kind of little cute things right :">

berawal dari ketidakada kerjaan, senggang sesenggang senggangnya, gambar dan coretan kreatif ini dibuat. dalam sehelai tissue ini, terdapat coretan lugas yang dibuat oleh dua orang gadis polos nan lugu. tersangka utama adalah nindita nilasari dan silvia noordiana (aku). seharusnya kita berdua dengerin LPJ para pengurus harian marching yang emang saat itu lagi diadakan di ruang sidang 3 di gelanggang mahasiswa UGM. entah karena rasa bosan yang sudah amat sangat diiringi dengan rasa kelaparan yang tinggi akhirnya sehelai tissue kreatif ini berhasil dibuat. seru kan, obrolan kita ga penting sebenernya di sini, cuma sebuah coretan untuk membunuh waktu ahah yuk nindi onnie kapan lagi kita corat coreet :3 oh sebelumnya, jigeumeun non yoja ireumen, nindita onnie imnida :) nama panjangnya nindita nilasari, sekarang ini lagi kuliah di UGM jurusan bahasa korea. karena aku juga suka korea banget bahkan super maksi sukanya jadilah kita berbahasa koreaan :3 selain itu nih yaaaa mau ...

Jalan Masa Depan

Tetiba kepikiran sama pekerjaan yang sekarang. Suka banget sama kantornya kenapa? Karena kerjaannya bukan? Atau sama orang orangnya? Atau karena peraturannya? Selama ini suka banget sama orang orangnya. Rasanya bukan kayak berangkat kantor tapi berangkat main. Kalo misalkan mereka ngga ada dan tergantikan gimana? Aku ngga siap kayaknya :') Satu udah pergi, satu lagi juga mau pergi. Yang satunya belum tentu bakal ada disitu terus. Rasanya pengen bilang kalo udah disini aja ngga usah kemana mana. Tapi masa depan kan di tangan masing masing, ngga bisa ngikutin, ngga bisa dipaksain. Pada akhirnya semua akan ada di jalan pilihannya sendiri. Manusia memang makhluk sosial, tapi juga bukan tempat untuk bergantung. Harus belajar ikhlas. People change anytime. Dijaga aja kenangannya biar ngga pudar :')

Looking for a friend

What do you see from your parents? I just see religion, less love and affection. The way you communicate is important, how you can feel alive and be the person loved at home. The things I know is, I don't want to raise my children like my parents raised me. That's not good and not appropriate. Yes, I'm aware of the religion but I didn't get any value and advice. Mostly are unreasonable explanation and I can't get any good discussion. Either way I got high voice upon me or they didn't hear any words came through my mouth. I'm an adult already, need a discussion in both way not just 'Hey, we're your parents. You can't say anything againts us, it's not allowed in our religion'.