Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

Anak Bapak

Bapak itu lucu, paling nggak suka nunjukin sikap perhatian ke anaknya. Kalo tersipu sukanya buang muka, padahal di balik itu bapak tersenyum simpul. Kalo ditanya perihal di mana barang barang pasti dijawab ‘ ngga tahu’, tapi di tengah kelimpungan cari barang, tiba tiba bapak dateng dengan barang yang dicari. Digeletakin gitu aja tanpa bilang apa apa. Manis banget kan, kayak cowo yang sok cuek-tapi-peduli gitu. Yang kalo dikejar malah makin jauh *whoops*. Bapak suka ngajakin diskusi politik, secara dari background edukasi bapak memang bidang hukum. Tapi kadang juga aku melongo, nggak ngerti yang diomongin. Ujung ujungnya aku dan bapak berdebat gara-gara kita liat dari kacamata yang berbeda. Tapi dari situ wawasanku bertambah. Bapak mengajarkan hal hal yang tidak dapat dijangkau rasional oleh mata. Bapak mengajarkan tentang kompleksnya kehidupan dalam politik, yang entah kenapa, malah membuatku semakin anti politik. Maafkan anakmu ini ya Pak, aku tau Bapak mau aku masuk ke bi...

Pijar lampu perubahan

Akhir akhir ini jam pulangku berubah, bukan lagi tengah malam, siang hari ataupun sore hari saat jam menunjukkan pukul lima. Selepas maghrib hingga jam 9, bisa jadi jadwal baru untukku pulang ke rumah. Rute jalan yang kulalui pun selalu sama. Jika itu dari utara, arah kridosono-jembatan lempuyangan selalu jadi rute favorit. Akhir akhir ini pula pemandangan sesosok laki-laki itu selalu membuatku penasaran.  Dengan tas kecil di pinggang, lampu pengatur lalu lintas warna merah di tangan, dan motor berplat B-FMX yang terpakir di sisi kiri jalan, dia mengatur lalu lintas dengan apiknya. Memang rute jalan dari arah barat dari kridosono menuju ke arah jembatan lempuyangan terkadang membuat macet. Tapi satu hal yang mengganggu pikiranku, siapa kah gerangan laki-laki ini? Kurasa sih bukan polisi, apa iya polisi bertugas dengan tidak memakai seragam dan dengan memakai sendal jepit di kaki? Setiap malam pula laki-laki ini berdiri di tengah jalan mengatur lalu lintas penyeberangan dengan men...

Serpihan Rasa

Katanya kalo kamu menyukai seseorang, katakanlah. Sepertinya mudah kan, tinggal ngomong doang , apa susahnya? Tapi ketika keberanian itu datang, pernahkah terpikir bahwa ucapan itu akan membekas dan berdampak pada ritme kehidupanmu selanjutnya? Aku menyukaimu. Itu yang kuucapkan saat rasa ini kian membuncah. Merekah bibir ini ketika mendengar suara handphone berdenting. Jika itu dari kamu, hati ini berdesir. Bahagia. Sesederhana itu aku menyukaimu. Masih tergambar dengan jelas saat kamu menatapku lamat lamat dan tersipu malu ketika aku melihat balik ke arahmu. Keheningan canggung yang tercipta saat kita duduk berdampingan, dan ketika kamu bilang aku cantik. Ah, aku rindu :( Memang, awalnya kamu yang mengejarku, dengan mengucap ‘ I love you’ setiap kali bertemu. Tapi kala itu diri ini masih ragu, apakah kata itu terucap dengan hati atau hanya ilusi. Dan ketika mataku tak mampu lagi berpaling darimu, aku terjatuh. Aku menyukaimu. Tapi apa? Kamu pergi menjauh, tanpa aba aba. ...

I Want To Be

Aku ingin menjadi angin. Bisa terbang ke mana pun aku suka. Tanpa terikat dan tanpa beban. Aku ingin menjadi angin. Tak dapat diraih. Hanya tempat tertutup yang dapat memenjarakanku. Aku ingin bebas dari segala yang menghimpitku. Aku ingin bebas dari segala rutinitas yang membuatku jenuh. Aku ingin bebas dari kemunafikan yang membuatku jengah. Aku ingin membaur dengan masyarakat. Menjadi tak terlihat. Aku ingin diterima di setiap tempat. Dan tak henti memberi dampak. Angin..simbol kebebasan dan kekuatan. Angin..begitu sejuk ketika kau menerpa wajahku. #Day8 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Akhir penantian

Katanya rumah itu tempat berpulang, tempat kembali dari keseharian hidup. Tapi kurasa arti rumah yang sebenarnya ada di sisi Tuhan. Tempat kembali yang begitu dinantikan semua orang, kecuali bagi yang kurang beramal, yah seperti itulah. Rumah itu terasa saat kebesaran Tuhan ada. Rasanya nyaman sekali, dikelilingi kuasa ilahi. Kamu sepakat? Bagus. Yakinlah bahwa rumah itu selalu ada dalam genggaman tangan. Mungkin sekarang kamu hanya singgah untuk membangun rumah di sisi Tuhan dengan megahnya. Dengan pondasi doa dan beratapkan iman. #Day7 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Klise

Pernahkah kamu berkaca pada kehidupan pesisir? Seorang bapak bertaruh dengan hidup matinya setiap hari, demi memberi sesuap nasi pada anaknya, mungkin umur lima. Melaju dengan perahu setiap malam, terhantam ombak, terguncang badai. Sedangkan kamu, pernahkah kamu merasa kurang segalanya? Dengan i-phone di tangan kanan, jam rolex mahal di tangan kiri, dan terlindung dari sinar matahari dengan keluaran honda jazz terbaru. Apalagi? Tangisan manja merengek cinta juga gesekan kartu di mana-mana. Masih kurang? #Day6 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Kehidupan di atas perahu

Aku tertegun, melihat banyaknya lubang pada tempat aku berpijak. Semakin lama semakin besar, lalu air mulai masuk. Sempat kulirik ujung tumit sepatuku, ternyata tertancap sebuah paku. Jadi ini semua karena ulahku? Kepalaku berputar. Bagaimana? Aku tidak tahu caranya berenang. Lekas kuambil paku di ujung sepatu, kusumbatkan pada lubang kayu perahu. Masih kurang, kurobek jaket terbaikku guna menambal perahu. Aku terduduk lemas, perahuku mulai goyah. Sekelebat terlihat kapal laut lewat. Aku ingin berteriak, memohon agar dapat menumpang. Namun apa daya, suaraku tertahan. Kuraih dayung di ujung haluan, dengan tangan gamang kumulai mendayung. Semakin lama semakin pasti, kucoba membaca rasi bintang. Hingga akhirnya kutahu, ujung di mana perahu ini akan berlabuh. Bukankah begitu kalanya hidup? Layaknya berdiri di atas perahu. Terkadang masalah muncul akibat ulah dari diri sendiri, hingga menyebabkan sebuah lubang besar menganga, menuntut penyelesaian. Godaan lari dari masalah terus menghamp...

Kupu-kupu

Metamorfosis itu seperti perjalanan hidup. Kalau bisa aku bilang, bukan melulu soal tampilan fisik ataupun rupa seseorang. Coba tengok kilasan masa lalu saat kita masih bayi, bukankah sama dengan ulat? Berjalan melata dengan ritme ala kadarnya, belajar melakukan sesuatu dengan seksama. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi kecil akan memasuki masa sekolah dan hingar bingar kehidupan remaja. Saat itu seperti masa ulat dalam kepompong, membungkus diri dengan segala tetek bengek per-sekolah-an. Hingga pada masanya nanti akan keluar menjadi kupu kupu yang cantik dan siap menghadapi kejamnya dunia. Kupu-kupu yang berbekal pengalaman hidup dari masa menjadi kepompong, dan kupu-kupu yang telah berganti rupa dari sifat kekanakan sang ulat menuju pendewasaan. Lepas dari masa kepompong, bukan menjadikan kupu-kupu tampil langsung sempurna. Rentangan sayap perlahan dilakukan sebagai bentuk penyesuaian diri, seperti halnya jika memasuki dunia kerja baru, belajar beradaptasi. Patahan sayapnya me...

Temukan aku!

Kamu tahu rasanya bersembunyi dalam gelak tawa palsu? Kamu tahu rasanya berkubang dalam keramaian yang bahkan jauh dari keseharian? Dan apakah kamu tahu, apakah sahabatmu benar benar tulus dengan semua ceritanya? Terkadang, rasa ingin diterima orang lain itu begitu besar. Hingga mendesak sisi diri kita sendiri untuk bersembunyi menjauh. Terdesak hingga ujung kata yang terbilang "biasanya" dan "harusnya". Hingga menciptakan tabiat palsu, demi sebuah eksistensi. Bukan menjadi apa yang orang lain mau untuk menjadi diterima sekitar, tapi lebih pada menjadi diri kita sendiri tanpa paksaan. Bukan menyembunyikan sisi diri kita yang lain dari kebanyakan orang, bukan. Yang perlu kita temukan adalah orang yang benar benar menerima kita apa adanya, dari segala sisi, dan segala rupa. Bukankah sahabat terbaik itu seperti bermain petak umpet? Menyembunyikan segala buruk rupa dan menemukan kelebihan kita. Jadi, apakah kamu yang sedang bermain petak umpet bersamaku? Sourc...

Sepasang Sepatu yang Bukan Baru

Satu langkah kaki kecil dapat membawa kita pada tempat yang tak terduga, pun demikian dengan sepatu. Pilihan jenis apa yang dapat membawamu ke mana, itu bukan perkara mudah. Lihat saja, banyak wanita rela merogoh kocek begitu dalam pada barang satu ini. Sepatu baru selalu terlihat lebih menarik, tapi siapa sangka. Sepatu lama juga menyimpan banyak cerita. Bagi sebagian orang, menggunakan barang lama dengan banyak kenangan merupakan pilihan. Sepatu baru selalu memerlukan adaptasi baru, ruang gerak baru, dan sepotong jiwa yang baru. Lihat lah, bahkan sepatu pun berpasangan, seperti aku dan kamu. Aku tak akan bisa membawa kaki melangkah jika kamu masih jauh tertinggal. Seperti lagu Tulus ya, sepatu. Hanya saja, bukan tujuan menjadi satu pada sepatu. Hanya melangkah bersama dengan gelak tawa, bukankah itu menyenangkan? Meskipun tanpa pasangan yang tepat, sepatu masih dapat memberi langkah kecil pada kaki, asalkan ruang gerak kita berbeda, kanan dan kiri. Yah, meskipun jalan pasti terseo...