Aku tertegun, melihat banyaknya lubang pada tempat aku berpijak. Semakin lama semakin besar, lalu air mulai masuk. Sempat kulirik ujung tumit sepatuku, ternyata tertancap sebuah paku. Jadi ini semua karena ulahku? Kepalaku berputar. Bagaimana? Aku tidak tahu caranya berenang. Lekas kuambil paku di ujung sepatu, kusumbatkan pada lubang kayu perahu. Masih kurang, kurobek jaket terbaikku guna menambal perahu. Aku terduduk lemas, perahuku mulai goyah. Sekelebat terlihat kapal laut lewat. Aku ingin berteriak, memohon agar dapat menumpang. Namun apa daya, suaraku tertahan. Kuraih dayung di ujung haluan, dengan tangan gamang kumulai mendayung. Semakin lama semakin pasti, kucoba membaca rasi bintang. Hingga akhirnya kutahu, ujung di mana perahu ini akan berlabuh.
Bukankah begitu kalanya hidup? Layaknya berdiri di atas perahu. Terkadang masalah muncul akibat ulah dari diri sendiri, hingga menyebabkan sebuah lubang besar menganga, menuntut penyelesaian. Godaan lari dari masalah terus menghampiri, tapi hati kecil kita bergeming. Dengan perlahan mencoba bangkit dengan kepalan tangan. Sesekali perahu itu akan goyah dengan banyaknya riak di luar sana, tapi dengan bulatan tekad yang ada kita pasti akan kuat. Bukankah begitu?
![]() |
| Source: Google |

Comments
Post a Comment