Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Memoar kecil

Hari minggu layaknya surga sewaktu kecil. Banyak film kartun diputar dari mulai pagi hingga tengah hari. Bangun pagiku disambut senyuman, berlari kecil menuju ruang tv dan melongok ke meja makan. Sudah ada jajanan lengkap berjajar yang habis dibeli ibu dari pasar. Bergegas mataku tak kunjung lepas dari layar televisi ditemani dengan kudapan pasar. Sampai sore menjelang, kawan kawan datang menghampiri dengan ajakan yang khas, “Silviiiii, main yuuk”. Ah aku rindu. Permainan karet gelang yang biasa disebut ‘ yeye’ merupakan salah satu permainan favoritku. Aku bisa melompat sekaligus menari, menjajal setinggi dan seterampil apa aku bisa bermain. Bisa melompat dengan tali diacungkan ke udara setinggi tangan penuh, atau bisa disebut posisi ‘tali merdeka’, tanpa meroda itu bangganya bukan main. Wuih, serasa menang lomba pacuan kuda. Main kejar kejaran di permainan 'boi-boi-nan' dan 'sepak sekong' juga memamcu adrenalin. Resikonya sekujur badan sakit kalo kena pukul bol...

Pejalan kaki

Laki-laki itu berjalan tertatih, nafasnya memburu tersengal-sengal. Rambutnya panjang terurai menutupi sebagian matanya. Tampak ransel di punggungnya semakin memperlambat langkahnya. Hari itu hujan, petir gemuruh menggelegar. Beban di pundak juga hantaman hujan semakin mencegah kakinya untuk maju. Sol sepatunya semakin menipis, setipis lembaran kertas.   Dan bibirnya tak berhenti berkomat-kamit, sedari tadi hanya memanggil satu nama “Ibu...Ibu...” Sesampai kakinya di depan rumah dengan cat abu-abu, langkahnya terhenti. Berganti dengan jeritan tangis tertahan tanpa air mata. Laki-laki itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri, dengan bergegas orang-orang memeluk juga menuntun langkahnya. Melewati bendera putih yang terpasang di depan rumah dengan cat abu-abu.

No Title Needed

Mata merupakan jendela dunia. Juga salah satu sisi dari bentuk sudut pandang. Mata adalah pintu menuju segala bentuk cahaya yang nantinya akan diteruskan menjadi gambaran nyata. Sejauh ini orang selalu memandang dari segi luarnya saja. Melihat ke- mainstream- an menjadi keharusan yang pada akhirnya memunculkan stereotipe tersendiri bagi sebagian orang. Katanya berpendidikan, tapi menyimpulkan sesuatu hanya dari satu sisi. Katanya terpelajar, tapi membedakan mana isu dan berita saja tidak mengerti. Mata selalu dimanjakan dengan berjuta warna juga berjuta cerita. Alangkah baiknya jika mata bekerja sama dengan hati juga pikiran. Melihat suatu hal dari berbagai sisi, dan tidak menghakimi sesuatu berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Mata akan benar-benar dapat melihat, ketika kita sudah tidak lagi melihat perbedaan antar warna kulit, antar suku, antar bangsa, maupun antar agama.

dua sisi es krim

Es krim punya rasa manis tapi juga punya rasa asam, namanya yoghurt. Sama kayak cinta kan, punya rasa manis juga asam. Manisnya es krim terasa lumer di mulut dan bikin mood jadi baikan. Manisnya es krim juga bisa jadi asupan tenaga, saat matahari sedang teriknya menyengat siang. Cinta yang manis juga begitu, bikin orang mabuk kepayang, seperti kena hujan di tengah kemarau. Yoghurt bisa dikatakan sebagai es krim asam. Rasa asamnya bisa membuat mata terpejam, tapi bagus untuk pencernaan. Asamnya cinta juga bisa membuat mata berair, tapi bagus untuk memperkuat diri. Sama kan? Jadi hari ini kamu mau merasakan es krim manis penuh cinta atau yoghurt asam benteng pertahanan? Beritahu aku kalau saatnya tiba. #Day13 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Merakit Hati

Masih ingat kata katamu setahun yang lalu? Katamu senyum aku lucu, menentramkan hati. Aku tau itu cuma gombalan kamu buat deketin aku. Tapi tetep aja rasanya melayang, apalagi saat kamu bilang "Aku rela melakukan apapun demi melihat senyuman itu" ah basi tau, tapi aku suka. Masih ingat setahun yang lalu kamu "culik" aku ke halaman gereja? Katamu biar senyum aku balik lagi. Memang saat itu mukaku sedang ditekuk. Tapi dengan es krim di tangan dan sketsa langit yang dibuat Tuhan, senyumku mengembang. Bulan ini harusnya senyumku kembali terkembang. Kita wisuda bersama, menuju awal gerbang pendakian bersama. Tapi itu berarti kamu akan pergi dalam waktu singkat. Meninggalkan Jogja. Meninggalkan aku. Kalo pun kita tidak harus sembunyi sembunyi, aku rasa hal ini biasa saja. Senyumku perlahan memudar, digelayuti mendung. Seharusnya bukan begitu, seperti kata "Movember" pada bulan November. Aku harus berpindah, bukan lagi meratap dengan bagaimana hubungan kita, ta...

Anak Bapak

Bapak itu lucu, paling nggak suka nunjukin sikap perhatian ke anaknya. Kalo tersipu sukanya buang muka, padahal di balik itu bapak tersenyum simpul. Kalo ditanya perihal di mana barang barang pasti dijawab ‘ ngga tahu’, tapi di tengah kelimpungan cari barang, tiba tiba bapak dateng dengan barang yang dicari. Digeletakin gitu aja tanpa bilang apa apa. Manis banget kan, kayak cowo yang sok cuek-tapi-peduli gitu. Yang kalo dikejar malah makin jauh *whoops*. Bapak suka ngajakin diskusi politik, secara dari background edukasi bapak memang bidang hukum. Tapi kadang juga aku melongo, nggak ngerti yang diomongin. Ujung ujungnya aku dan bapak berdebat gara-gara kita liat dari kacamata yang berbeda. Tapi dari situ wawasanku bertambah. Bapak mengajarkan hal hal yang tidak dapat dijangkau rasional oleh mata. Bapak mengajarkan tentang kompleksnya kehidupan dalam politik, yang entah kenapa, malah membuatku semakin anti politik. Maafkan anakmu ini ya Pak, aku tau Bapak mau aku masuk ke bi...

Pijar lampu perubahan

Akhir akhir ini jam pulangku berubah, bukan lagi tengah malam, siang hari ataupun sore hari saat jam menunjukkan pukul lima. Selepas maghrib hingga jam 9, bisa jadi jadwal baru untukku pulang ke rumah. Rute jalan yang kulalui pun selalu sama. Jika itu dari utara, arah kridosono-jembatan lempuyangan selalu jadi rute favorit. Akhir akhir ini pula pemandangan sesosok laki-laki itu selalu membuatku penasaran.  Dengan tas kecil di pinggang, lampu pengatur lalu lintas warna merah di tangan, dan motor berplat B-FMX yang terpakir di sisi kiri jalan, dia mengatur lalu lintas dengan apiknya. Memang rute jalan dari arah barat dari kridosono menuju ke arah jembatan lempuyangan terkadang membuat macet. Tapi satu hal yang mengganggu pikiranku, siapa kah gerangan laki-laki ini? Kurasa sih bukan polisi, apa iya polisi bertugas dengan tidak memakai seragam dan dengan memakai sendal jepit di kaki? Setiap malam pula laki-laki ini berdiri di tengah jalan mengatur lalu lintas penyeberangan dengan men...

Serpihan Rasa

Katanya kalo kamu menyukai seseorang, katakanlah. Sepertinya mudah kan, tinggal ngomong doang , apa susahnya? Tapi ketika keberanian itu datang, pernahkah terpikir bahwa ucapan itu akan membekas dan berdampak pada ritme kehidupanmu selanjutnya? Aku menyukaimu. Itu yang kuucapkan saat rasa ini kian membuncah. Merekah bibir ini ketika mendengar suara handphone berdenting. Jika itu dari kamu, hati ini berdesir. Bahagia. Sesederhana itu aku menyukaimu. Masih tergambar dengan jelas saat kamu menatapku lamat lamat dan tersipu malu ketika aku melihat balik ke arahmu. Keheningan canggung yang tercipta saat kita duduk berdampingan, dan ketika kamu bilang aku cantik. Ah, aku rindu :( Memang, awalnya kamu yang mengejarku, dengan mengucap ‘ I love you’ setiap kali bertemu. Tapi kala itu diri ini masih ragu, apakah kata itu terucap dengan hati atau hanya ilusi. Dan ketika mataku tak mampu lagi berpaling darimu, aku terjatuh. Aku menyukaimu. Tapi apa? Kamu pergi menjauh, tanpa aba aba. ...

I Want To Be

Aku ingin menjadi angin. Bisa terbang ke mana pun aku suka. Tanpa terikat dan tanpa beban. Aku ingin menjadi angin. Tak dapat diraih. Hanya tempat tertutup yang dapat memenjarakanku. Aku ingin bebas dari segala yang menghimpitku. Aku ingin bebas dari segala rutinitas yang membuatku jenuh. Aku ingin bebas dari kemunafikan yang membuatku jengah. Aku ingin membaur dengan masyarakat. Menjadi tak terlihat. Aku ingin diterima di setiap tempat. Dan tak henti memberi dampak. Angin..simbol kebebasan dan kekuatan. Angin..begitu sejuk ketika kau menerpa wajahku. #Day8 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Akhir penantian

Katanya rumah itu tempat berpulang, tempat kembali dari keseharian hidup. Tapi kurasa arti rumah yang sebenarnya ada di sisi Tuhan. Tempat kembali yang begitu dinantikan semua orang, kecuali bagi yang kurang beramal, yah seperti itulah. Rumah itu terasa saat kebesaran Tuhan ada. Rasanya nyaman sekali, dikelilingi kuasa ilahi. Kamu sepakat? Bagus. Yakinlah bahwa rumah itu selalu ada dalam genggaman tangan. Mungkin sekarang kamu hanya singgah untuk membangun rumah di sisi Tuhan dengan megahnya. Dengan pondasi doa dan beratapkan iman. #Day7 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Klise

Pernahkah kamu berkaca pada kehidupan pesisir? Seorang bapak bertaruh dengan hidup matinya setiap hari, demi memberi sesuap nasi pada anaknya, mungkin umur lima. Melaju dengan perahu setiap malam, terhantam ombak, terguncang badai. Sedangkan kamu, pernahkah kamu merasa kurang segalanya? Dengan i-phone di tangan kanan, jam rolex mahal di tangan kiri, dan terlindung dari sinar matahari dengan keluaran honda jazz terbaru. Apalagi? Tangisan manja merengek cinta juga gesekan kartu di mana-mana. Masih kurang? #Day6 #SehariMenuliSatu #SwaragamaFM

Kehidupan di atas perahu

Aku tertegun, melihat banyaknya lubang pada tempat aku berpijak. Semakin lama semakin besar, lalu air mulai masuk. Sempat kulirik ujung tumit sepatuku, ternyata tertancap sebuah paku. Jadi ini semua karena ulahku? Kepalaku berputar. Bagaimana? Aku tidak tahu caranya berenang. Lekas kuambil paku di ujung sepatu, kusumbatkan pada lubang kayu perahu. Masih kurang, kurobek jaket terbaikku guna menambal perahu. Aku terduduk lemas, perahuku mulai goyah. Sekelebat terlihat kapal laut lewat. Aku ingin berteriak, memohon agar dapat menumpang. Namun apa daya, suaraku tertahan. Kuraih dayung di ujung haluan, dengan tangan gamang kumulai mendayung. Semakin lama semakin pasti, kucoba membaca rasi bintang. Hingga akhirnya kutahu, ujung di mana perahu ini akan berlabuh. Bukankah begitu kalanya hidup? Layaknya berdiri di atas perahu. Terkadang masalah muncul akibat ulah dari diri sendiri, hingga menyebabkan sebuah lubang besar menganga, menuntut penyelesaian. Godaan lari dari masalah terus menghamp...

Kupu-kupu

Metamorfosis itu seperti perjalanan hidup. Kalau bisa aku bilang, bukan melulu soal tampilan fisik ataupun rupa seseorang. Coba tengok kilasan masa lalu saat kita masih bayi, bukankah sama dengan ulat? Berjalan melata dengan ritme ala kadarnya, belajar melakukan sesuatu dengan seksama. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi kecil akan memasuki masa sekolah dan hingar bingar kehidupan remaja. Saat itu seperti masa ulat dalam kepompong, membungkus diri dengan segala tetek bengek per-sekolah-an. Hingga pada masanya nanti akan keluar menjadi kupu kupu yang cantik dan siap menghadapi kejamnya dunia. Kupu-kupu yang berbekal pengalaman hidup dari masa menjadi kepompong, dan kupu-kupu yang telah berganti rupa dari sifat kekanakan sang ulat menuju pendewasaan. Lepas dari masa kepompong, bukan menjadikan kupu-kupu tampil langsung sempurna. Rentangan sayap perlahan dilakukan sebagai bentuk penyesuaian diri, seperti halnya jika memasuki dunia kerja baru, belajar beradaptasi. Patahan sayapnya me...

Temukan aku!

Kamu tahu rasanya bersembunyi dalam gelak tawa palsu? Kamu tahu rasanya berkubang dalam keramaian yang bahkan jauh dari keseharian? Dan apakah kamu tahu, apakah sahabatmu benar benar tulus dengan semua ceritanya? Terkadang, rasa ingin diterima orang lain itu begitu besar. Hingga mendesak sisi diri kita sendiri untuk bersembunyi menjauh. Terdesak hingga ujung kata yang terbilang "biasanya" dan "harusnya". Hingga menciptakan tabiat palsu, demi sebuah eksistensi. Bukan menjadi apa yang orang lain mau untuk menjadi diterima sekitar, tapi lebih pada menjadi diri kita sendiri tanpa paksaan. Bukan menyembunyikan sisi diri kita yang lain dari kebanyakan orang, bukan. Yang perlu kita temukan adalah orang yang benar benar menerima kita apa adanya, dari segala sisi, dan segala rupa. Bukankah sahabat terbaik itu seperti bermain petak umpet? Menyembunyikan segala buruk rupa dan menemukan kelebihan kita. Jadi, apakah kamu yang sedang bermain petak umpet bersamaku? Sourc...

Sepasang Sepatu yang Bukan Baru

Satu langkah kaki kecil dapat membawa kita pada tempat yang tak terduga, pun demikian dengan sepatu. Pilihan jenis apa yang dapat membawamu ke mana, itu bukan perkara mudah. Lihat saja, banyak wanita rela merogoh kocek begitu dalam pada barang satu ini. Sepatu baru selalu terlihat lebih menarik, tapi siapa sangka. Sepatu lama juga menyimpan banyak cerita. Bagi sebagian orang, menggunakan barang lama dengan banyak kenangan merupakan pilihan. Sepatu baru selalu memerlukan adaptasi baru, ruang gerak baru, dan sepotong jiwa yang baru. Lihat lah, bahkan sepatu pun berpasangan, seperti aku dan kamu. Aku tak akan bisa membawa kaki melangkah jika kamu masih jauh tertinggal. Seperti lagu Tulus ya, sepatu. Hanya saja, bukan tujuan menjadi satu pada sepatu. Hanya melangkah bersama dengan gelak tawa, bukankah itu menyenangkan? Meskipun tanpa pasangan yang tepat, sepatu masih dapat memberi langkah kecil pada kaki, asalkan ruang gerak kita berbeda, kanan dan kiri. Yah, meskipun jalan pasti terseo...

too late for dreaming?

Setiap orang pasti punya tapak jalan yang berbeda. Kalimat ini sudah umum dijumpai di berbagai belahan sudut. Terutama untuk mahasiswa tingkat akhir yang bergelut dengan skripsi atu pun tugas akhir. Suatu wejangan bijak yang mungkin terkadang disalah gunakan menjadi alasan untuk menunda kelulusan. Lantas, bagaimana setelah lulus? Setiap orang pula pasti punya sebuah impian. Entah impian itu bersifat sangat wajar, keluar jalur, ataupun impian yang bagi banyak orang, mungkin tidak cukup layak untuk diperjuangkan. Layak kah impian itu ditertawakan? Kurasa tidak. Sebagai manusia yang berpendidikan tidak seharusnya kita menganggap remeh impian seseorang, se-tidak rasional apapun impiannya. Pernahkah kamu berfikir, bahwa impian seseorang terkubur jauh dalam angan hanya karena gelak tawa dan cemoohan yang kamu buat? Dan tanpa kamu sadari pun, seseorang telah mati dalam jiwa hanya karena sikap yang sayangnya mungkin kurang kamu sadari. Karena sesungguhnya seseorang tanpa impian hanyalah...

Dua Macam Jenis Dengki

Ada suatu masa ketika rasa ingin menjadi orang lain itu muncul, atau rasa ingin memiliki yang orang lain punya itu timbul. Dengki lah bahasa lebih gampangannya. Kesannya negatif ya? Menurutku dengki itu ada dua macam. Pertama, dengki yang bisa memacu semangat dan kedua, dengki yang menimbulkan perhelatan nafas panjang. Mungkin bagi sebagian orang akan mengalami dengki jenis kedua terlebih dahulu sebelum melangkah ke dengki jenis pertama. Tapi ada sebagian orang yang dari awal hidupnya hanya mengalami dengki jenis pertama. Dengki yang bisa menimbulkan semangat mungkin akan banyak menimbulkan pertanyaan, "Kenapa dia bisa beruntung sekali?" dan "Kapan aku bisa jadi seperti dia?". Hal ini membuat kita berpikir dan melihat ke belakang. Mereka bisa meraih apa yang mereka punya sekarang tentunya dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah. Kita akan lebih pingin tahu bagaimana usaha dan doa yang mereka panjatkan. Dengan begitu kita jadi lebih bisa bersabar dan le...

Sedikit Usaha Perubahan

Dunia ini memang kejam, tapi bukan berarti anak anak yang harus menjadi korban. Di tengah keputusasaan ekonomi tidak seharusnya masa kecil anak dikorbankan. Lihat lah, di tengah guyuran hujan dan gelapnya malam mereka masih berjalan hilir mudik di antara mesin beroda dua dan empat. Berjalan tertatih tanpa alas kaki. Anak kecil, mungkin berumur 7-8 tahun, hanya mengenakan sehelai pakaian hangat dan celana training. Untuk anak seusianya, seharusnya dia belajar di rumah, ditemani sang ibu yang akan mengelus lembut kepalanya, dan sang kakak pun ikut berjalan mobil demi mobil mengemis rupiah. Di mana belas kasihan sang ibu yang tega membiarkan anak anaknya terguyur hujan dan tanpa alas kaki? Apa mereka tega mengorbankan kesehatan sang buah hati demi makan sehari-hari? Rasanya ingin sekali menghampiri anak anak itu dan berkata "sini kakak sekolahin kamu tapi janji ya jangan balik lagi minta-minta kesini". Bukannya berarti mereka belum tentu tidak sekolah, tapi barangkal...

Bonheur, et vous?

Absurd

"Mau sampe mana tahap akhirnya?" "Kalo uda setahun dua tahun masih lanjut?" "Orang tua gimana?"   Mari kita pikirkan sambil tidur. Dipikir karo turu wae cah.

Mimpi yang (Tak) Sempurna

Pekerjaan kaum sosialis sungguh menggoda, terbersit pikiran mau belok ranah pekerjaan. Jujur, sampe sekarang belom ada pandangan apapun tentang pekerjaan. Rumah sakit? Hell no... Sepertinya itu opsi terakhir. Gebetan kerjaannya standar sebenernya, Danone, Unilever, Nestle. Tapi bukan jadi dietitian , lantas apa? Entah lah, posisi manajemen SDM, pemasaran, dan kawannya terlihat lebih menarik. S upervisor PGI juga terdengar menjanjikan, wuih butuh pengalaman berapa tahun dulu mak, keburu tua anak kau nih :s Tapi harapan orang tua sama anak emang agak ga sejalan. Sebagai anak pertama pasti dituntut cepet kerja habis lulus, segera lah bantuin biaya kuliah adek. Sebagai anak pertama dengan bapak yang udah pensiun, juga pengen cepet dapet kerja, ringankan beban orang tua. Sebagai anak pertama menjelang fresh graduate  (secepatnya) merasa masih banyak mimpi yang tercecer nungguin buat dipungut. Menurut masing-masing orang, sukses itu relatif. Menurut bapak ibu, sukses adalah ketik...

Keberanian untuk melangkah

"Jangan memulai sesuatu yang kamu pasti tau ga enak pada akhirnya" - kata teman dari seorang teman Semua perkiraan berujung pada keputusan akhir. Tapi perkiraan tetap hanyalah perkiraan. Dapat berubah. Berserah pada Tuhan dengan perjuangan dan segala konsekuensi adalah hal yang terbaik. Kita ga akan tau hasil akhirnya jika kita ga pernah melangkah Kita ga akan tau hasil akhirnya jika kita menarik diri mundur ke belakang Kita ga akan tau hasil akhir yang telah ditakdirkan Tuhan "If I let you go, I will never know what my life would be holding you close to me" - Westlife  *Semua konteks pemikiran disini mengarah pada pemikiran positif, bukan memulai sesuatu yang menyimpang dari norma maupun hukum

Hanya Tuhan kami yang berbeda

Kenapa Allah ciptain kita beda-beda kalau Dia cuma pengen disembah dengan satu cara? Pada dasarnya semua manusia sama derajatnya di mata Tuhan, hanya tingkat keimanan yang berbeda. Apa guna keberagaman diciptakan? Pasti Tuhan punya maksud, punya rencana, rencana Tuhan selalu penuh arti. Bukankah Tuhan memang sutradara terhebat sejagad raya? - God is the best director Pada dasarnya semua agama mengajarkan landasan dasar yang sama, berbuat kebaikan pada sesama. Hanya kepada siapa doa dipanjatkan, itu yang membedakan. Semua agama ada untuk kebaikan bersama bukan untuk menuai permusuhan. Sekali lagi Tuhan pasti punya maksud, hingga menghadirkan bermacam agama. Sampai ada atheis, orang yang sudah putus asa terhadap Tuhan dan tidak menganggap-Nya nyata. Mungkin Tuhan lelah untuk disembah, mungkin Tuhan ingin beristirahat barang sejenak. - Dunia ini sudah kebanyakan agama, kebanyakan Tuhan Pada dasarnya aku dan kamu adalah sama, tidak serupa namun tetap bersama. Hanya beberapa hal y...

Semburat Jingga Mentari Sore

Langit sore ini seperti biasanya, mendung berawan. Jingganya mentari tertutup awan kelabu. Tapi aku suka, aku suka lukisan apapun yang langit buat. Aku suka semburat jingga diantara gelapnya langit. Aku suka hangatnya mentari sore, hangatnya menenangkan. Bukan panas menyengat seperti meleleh di ubun ubun. Hari ini aku bisa melihat langit sore dari tempat aku menulis, sayangnya langit sedang dalam suasana buruk. Bad mood kalo kata orang-orang. Tapi aku suka, aku suka melihat kendaraan yang berlalu lalang dan ketika aku menengok ke belakang tampak terlihat suasana rumah yang nyaman tapi sunyi. Pemandangan vertical horizontal. Memangnya aku ada dimana? Aku tidak sedang berada di rumah. Saat ini aku sedang diculik sahabatku untuk menemaninya belajar. Sungguh aneh saat belajar tidak lagi dilakukan di rumah. Mungkin aku akan seperti orang kebanyakan, belajar ditemani secangkir coklat hangat dan musik klasik. Tapi disini bukan musik klasik yang kudengar, hanya suara tv yang disetel...

born to sketch

The new me!

Resolusi Banyak sekali dirimu terucap saat malam pergantian tahun. Banyak yang berusaha menjelaskan seperti apa bayanganmu setahun ke depan, banyak pula yang mengutarakan sosokmu setahun belakangan, merasa kehilangan Lalu bagaimana bentuk nyatamu terhadapku? Aku rasa aku tak punya resolusi tahun 2013 kemarin, rasanya hanya menjalani rutinitas. Tapi ternyata, ada perubahan nyata yang kasat mata. Aku lepas dari bayang-bayang marching! Bukan lepas yang tampak bebas, hati ini masih condong ke arah marching, hanya saja aku bisa melepas semua kepenatan dan melakukan apa yang aku mau. ...kapan saya akan berkembang menjadi sesuatu yang baru? mengenal semua hal baru, dan berkreativitas di bidang lain?....segera cil! lepaskan semua beban yang membelenggu itu. cepatlah terbang, bebas, lepas seperti burung kecil di angkasa luas. bebas luas tanpa batas... - 7 Desember 2012  ... next year, i'm going to learn earn money on my own and i'm going to have my own holiday. no pr...